apresiasi puisi

A. Pengertian Apresiasi

Dalam kegiatan sehari-hari sering kita mendengar istilah apresiasi. Barangkali dalam benak kita muncul pertanyaan “apa itu apresiasi?” Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Apresiasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan kegiatan mengamati, menilai, dan menghargai (2007:62). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan untuk menghargai sastra. Namun, dalam perkembangan berikutnya pengertian apresiasi sastra berkembang secara luas. Banyak para ahli mencoba memberikan batasan tentang apresiasi sastra.

Secara terminologi, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra baik berupa drama, prosa, maupun puisi (Dola, 2007). Sejalan dengan pendapat tersebut, Sudjiman memberikan batasan bahwa apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra yang didasarkan pada pemahaman (1990:9). Tokoh lain, Yus Rusyana mendefinisikan apresiasi sastra sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai karya sastra dan kegairahan serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (dalam Aminuddin, 2010:34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.

Selanjutnya, dalam kamus istilah sastra Indonesia, apresiasi berarti penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Penghargaan dalam konteks apresiasi adalah penghargaan yang timbul atas dasar kesadaran dan pemahaman nilai-nilai karya sastra (Tusthi, 1991:24). Pengertian yang sejalan juga diungkapkan oleh Effendi bahwa apresiasi adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (2002: 6). Pendapat Effendi tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi merupakan sebuah kebutuhan yang mampu memuaskan rohanimya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hornby seperti yang dikutip oleh Saryono bahwa apresiasi adalah penimbangan, penilaian, pemahaman, dan pengenalan secara memadai (2009:33).

Dengan demikian, apresiasi puisi yaitu pengertian, pemahaman, penilaian, dan penghargaan yang mendalam dan sungguh-sungguh terhadap puisi. Menurut Zaidan seperti yang dikutip Waluyo (2002:44) membatasi pengertian apresiasi puisi sebagai “penghargaan atas puisi sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi itu.” Dalam batasan ini, syarat untuk dapat mengapresiasi puisi adalah kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terdapat dalam puisi sehingga seseorang dapat mengenal, memahami, menafsirkan, menghayati dan menikmati puisi tersebut.

B. Tingkatan Apresiasi

Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa tujuan apresiasi puisi adalah untuk mempertajam kepekaan batin terhadap persoalan hidup dan kehidupan, maka tingkatan dalam apresiasi diukur dari tingkat keterlibatan batin apresiator. Untuk dapat mengetahui tingkat keterlibatan batin, seorang apresiator harus memiliki “patos” yang berarti ‘rasa’ atau ‘perasaan’. Tingkatan-tingkatan apresiasi menurut Disick dalam Waluyo (2002:45) menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu sebagai berikut.

1. Tingkat Menggemari

Tingkat pertama atau tingkatan dasar dalam apresiasi puisi yaitu menggemari. Seseorang yang berada pada tingkat menggemari, keterlibatan batinnya belum kuat. Pada tingkatan ini batin apresiator tergetar dan muncul keinginan untuk memberikan perhatian terhadap puisi dan mau meluangkan waktu untuk membaca, mengakrabi, dan menggauli puisi. Jika kita membaca puisi kemudian muncul perasaan senang terhadap puisi tersebut, berarti kita sudah mulai masuk ke tahap pertama dalam mengapresiasi puisi, yaitu menggemari. Tingkat menggemari dengan kata lain bisa disebut juga dengan tingkat simpati.

2. Tingkat Menikmati

Tingkatan kedua dalam apresiasi puisi, yaitu tingkat menikmati. Seseorang yang berada pada tingkat menikmati, keterlibatan batin apresiator terhadap puisi semakin mendalam. Pada tingkatan ini batin apresiator mulai bisa ikut merasakan apa yang terdapat dalam puisi. Apresiator ikut merasakan sedih, terharu, bahagia, dan sebagainya ketika membaca puisi. Selain itu, pada tingkatan ini apresiator mampu menikmati keindahan yang ada dalam puisi secara kritis. Kalau tingkatan pertama baru pada tahap simpati, pada tingkatan kedua ini apresiator berada pada tingkatan empati.

3. Tingkat Mereaksi

Tingkat ketiga dalam apresiasi puisi, yaitu tingkat mereaksi. Pada tingkatan ini, seorang apresiator tidak hanya sekedar tergetar (simpati), atau dapat merasakan (empati) saja. Tetapi dapat melakukan refleksi diri atas nilai-nilai yang terkandung dalam puisi. Seseorang yang berada pada tingkat mereaksi, sikap kritis terhadap puisi lebih menonjol karena telah mampu menafsirkan dengan saksama dan mampu menilai baik-buruknya sebuah puisi. Penafsir puisi mampu menyatakan keindahan puisi dan menunjukkan letak keindahan dan kekurangan tersebut. Dengan kata lain, pada tingkat ketiga ini seorang apresiator dapat memetik nilai-nilai sebagai sarana untuk berrefleksi atau bercermin diri sebagai bentuk reaksi terhadap puisi yang dibaca.

4. Tingkat Produktif

Tingkat keempat atau tingkat tertinggi dalam apresiasi puisi, yaitu tingkat produktif. Seseorang yang berada pada tingkat produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan (menulis), mengkritik, mendeklamasikan, atau membuat resensi terhadap sebuah puisi secara tertulis. Dengan kata lain, ada produk yang dihasilkan oleh apresiator berkaitan dengan puisi.

C. Tahapan Apresiasi

Berdasarkan uraian tentang tingkatan-tingkatan dalam apresiasi puisi yang didasarkan pada keterlibatan batin apresiator, berikut ini akan dipaparkan tahapan-tahapan dalam kegiatan apresiasi puisi. Pentahapan dalam kegiatan apresiasi puisi ini dilihat dari apa yang dilakukan oleh apresiator.

Pada tahap pertama, seorang apresiator membuka daya khayal dan daya imajinasinya sebebas mungkin untuk merenungkan isi puisi yang dibacanya sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pengarang. Pada tahap pertama ini apresiator belum menganalisis secara kritis. Pada tahap kedua, apresiator meninggalkan perasaan dan daya khayalnya dalam menghadapi puisi. Apresiator pada tahap ini berusaha memahami puisi berdasarkan struktur intrinsik yang terdapat dalam puisi tersebut. Pada tahap ketiga, apresiator memahami karya sastra berdasarkan historisnya. Artinya, apresiator memandang karya sastra (puisi) tidak bisa terlepas dari histori atau sejarah dari pengarangnya. Dengan kata lain, pada tahap ini apresiator memahami puisi dari segi sosial, budaya, latar belakang psikologi pengarang dan segala sesuatu yang melatarbelakangi terciptanya puisi. Jika ketiganya dapat dilakukan dengan baik, maka pemahaman terhadap puisi juga akan lebih baik.

D. Kegiatan Apresiasi Puisi

Berdasarkan uraian mengenai apresiasi puisi yang telah dijelaskan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa apresiasi puisi bukan merupakan konsep abstrak yang tidak bisa diwujudkan dalam tingkah laku, melainkan menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara konkret. Kegiatan tersebut dalam hal ini dapat dibedakan menjadi kegiatan langsung dan kegiatan tidak langsung. Kegiatan apresiasi puisi secara langsung yaitu dapat dilakukan dengan kegiatan membaca atau menikmati puisi berupa teks maupun performansi secara langsung. Kegiatan membaca suatu teks puisi secara langsung dapat terwujud dalam perilaku membaca, memahami, menikmati, serta mengevaluasi teks puisi. Sedangkan, apresiasi puisi secara langsung yang berupa performansi diantaranya yaitu melalui kegiatan melihat, mengenal, memahami, menikmati, ataupun memberikan penilaian pada kegiatan pembacaan puisi, deklamasi puisi, atau musikalisasi puisi baik di radio, televisi, maupun pementasan di panggung terbuka.

Kegiatan apresiasi puisi, selain dilaksanakan secara langsung juga dapat dilaksanakan secara tidak langsung. Kegiatan apresiasi puisi secara tidak langsung dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra, mempelajari sejarah sastra, mempelajari esai dan kritik sastra, membaca artikel yang berhubungan dengan kesusastraan, mempelajari buku-buku maupun esei yang membahas dan memberikan penilaian terhadap puisi. Kegiatan-kegiatan tersebut dikategorikan sebagai kegiatan apresiasi puisi secara tidak langsung. Hal tersebut dikarenakan nilai akhirnya bukan hanya mengembangkan pengetahuan seseorang tentang puisi, melainkan juga akan meningkatkan kemampuan dalam rangka mengapresiasi puisi.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi puisi secara tidak langsung itu pada dasarnya ikut berperan dalam mengembangkan kemampuan apresisi puisi jika bahan bacaan tentang puisi yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi puisi. Misalnya ketika membaca tentang minat baca sastra siswa, kemampuan apresiasi siswa, atau artikel tentang pengajaran puisi di sekolah itu merupakan pembahasan yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan. Akan tetapi, pembahasan tersebut sedikit sekali perannya dalam mengembangkan kemampuan apresiasi puisinya (Aminuddin, 2010:36-37).

E. Bekal Awal Apresiator

Kellet dalam Aminuddin mengungkapkan bahwa pada saat ia membaca suatu karya sastra, dalam kegiatan tersebut ia selalu berusaha menciptakan sikap serius dalam membaca cipta sastra itu terjadi karena sastra bagaimanapun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya kontemplatif pembacanya. Sementara pada sisi lain, sastra merupakan bagian dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah pembacanya (2010:37). Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai keindahan tersebut dalam hal ini akan mewujudkan atau tergambar lewat media kebahasaan, media tulisan, dan struktur wacana (2010:37-38). Dengan demikian, untuk bisa memahami makna sebuah puisi secara utuh, tidak cukup hanya mengkaji unsur kebahasannya saja melainkan juga semua unsur yang terkait di dalamnya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa puisi memiliki berbagai macam unsur yang sangat kompleks, diantaranya yaitu: (1) unsur keindahan; (2) unsur kontemplatif yang berkaitan dengan masalah hidup dan kehidupan; (3) unsur intrinsik puisi; dan (4) unsur ekstrinsik puisi. Berbagai macam unsur puisi tersebut mengimplikasikan kepada kita bahwasannya untuk bisa mengapresiasi puisi perlu memiliki bekal-bekal tertentu untuk memaksimalkan tindakan apresiasi. Bekal awal seorang apresiator yang paling utama dan fungsional yang harus dipersiapkan bagi calon apresiator yaitu: (1) memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah hidup dan kehidupan; (2) memiliki kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam puisi; (3) memiliki pemahaman terhadap aspek kebahasaan; dan (4) memiliki pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik puisi yang berhubungan dengan telaah teori sastra.

Keempat bekal tersebut harus dimiliki oleh seorang apresiator. Hal tersebut dikarenakan untuk memahami sebuah puisi dengan baik dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang luas dan juga membutuhkan banyak waktu untuk menggauli puisi. Pengetahuan dan pengalaman digunakan sebagai alat untuk membedah puisi, sedangkan kegiatan menggauli puisi dilakukan untuk lebih akrab dengan puisi dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

F. Manfaat Apresiasi

Puisi sebagai salah satu karya sastra merupakan hasil respon atau tanggapan sastrawan terhadap lingkungannya. Sastrawan mewujudkannya secara estetis dan memiliki nilai-nilai tertentu. Berdasarkan hal tersebut, kelahiran sebuah puisi membawa manfaat tersendiri bagi masyarakat. Nilai yang terkandung dalam puisi merupakan hal yang esensial dalam puisi. Telaah yang mendalam terhadap puisi selain mengungkapkan latar belakang sosial budaya pengarangnya, juga mengungkapkan ide dan gagasan pengarang dalam menanggapi situasi yang terjadi disekitarnya. Berdasarkan hal tersebut, Rahmanto (1998: 16-24) mengungkapkan bahwa pembelajaran sastra setidaknya memberikan manfaat dalam empat aspek yaitu: (1) membantu meningkatkan keterampilan berbahasa; (2) meningkatkan pengetahuan budaya; (3) mengembangkan cipta dan rasa; dan (4) menunjang pembentukan watak atau karakter. Hal tersebut dikarenakan sastra memiliki fungsi sebagai media etika, estetika, dan didaktika. Sementara itu, Jakob Sumardjo mengemukakan bahwa manfaat apresiasi yaitu mendayagunakan pengetahuan, memperkaya rohani menjadi manusia berbudaya, dan belajar mengungkapkan sesuatu dengan baik (1986:16). Sedangkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan apresiasi menurut Aminuddin (2010: 60-64) yaitu terbagi menjadi dua, manfaat secara umum dan manfaat secara khusus. Manfaat umum yang diperoleh apresiator yaitu untuk mengisi waktu luang dan sebagai hiburan. Sedangkan manfaat secara khusus yaitu: (1) memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan; (2) memperkaya pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri; (3) memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang melahirkan cipta sastra itu sendiri; (4) mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya, sejalan dengan kedudukan kreasi manusia yang mampu memprediksi perkembangan zaman di masa yang akan datang. Selain keempat manfaat khusus tersebut, Aminuddin juga memberikan manfaat khusus lain bagi pembaca, yaitu memberikan katarsis dan sublimasi. Katarsis dalam hal ini yaitu kemampuan karya sastra yang mampu menjernihkan batin setelah pembaca melaksanakan kegiatan apresiasi secara akrab dan sungguh-sungguh sehingga terjadi peleburan antara pembaca dengan dunia-dunia yang diciptakan pegarangnya. Dalam batas tertentu, sublimasi juga dapat bermanfaat karena melalui sublimasi sering kali pembaca dapat memperoleh kepuasan atau kesegaran baru.