Indonesia: bagaimana kabarmu hari ini?

Ambillah sebuah koran, perhatikan halaman pertama, bacalah judul-judul headline pada halaman pertama. Berita tentang korupsi, perseteruan politik, kriminalitas, dan sebagainya menghiasi koran-koran di negeri kita. Itulah gambaran situasi bangsa Indonesia. Tanpa ragu lagi kita akan mengatakan bahwa bangsa Indonesia berada dalam situasi krisis moral. Tidak berlebihan jika ada orang yang mengatakan bahwa Indonesia adalah Republik yang korup dan jahiliyah: sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum lumpuh; yang muda malas, yang tua gatal; ketamakan diagungkan; kebaikan dimusuhi; kejahatan dibiarkan. Situasi tersebut sejalan dengan pernyataan M. K. Gandhi mengenai “tujuh dosa sosial” yaang akan menjadi ancaman bagi kehidupan bernegara, yaitu 1) politik tanpa prinsip, 2) kekayaan tanpa kerja keras, 3) perniagaan tanpa moralitas, 4) kesenangan tanpa nurani, 5) pendidikan tanpa karakter, 6) sains tanpa humanitas, 7) peribadatan tanpa pengorbanan.

“Pembaca dihasilkan oleh pembaca pula”, demikian menurut Nuttal. Yang dimaksud dengan pernyataan tersebut adalah seseorang gemar membaca karena dihasilkan oleh orang lain yang gemar membaca pula. Dapat pula dinyatakan bahwa seseorang menjadi orang yang gemar membaca karena lingkungannya. Siapa yang dimaksud pembaca oleh Nuttal? Bisa siapa saja. Jika “pembaca” yang pertama dan “pembaca” yang kedua adalah murid atau mahasiswa, artinya seorang murid yang gemar membaca dapat mempengaruhi temannya untuk gemar membaca pula. Jika yang dimaksud “pembaca” yang pertama adalah guru/dosen dan “pembaca” yang kedua adalah murid/mahasiswa, artinya guru/dosen memberi teladan kepada murid/mahasiswanya. Bagaimana jika murid/mahasiswa gemar membaca, apakah guru/dosennya akan gemar membaca pula?

Manusia sebagai Makhluk Berbudaya

Faktor utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai hewan, manusia tetap disebut sebagai hewan yang berakal. Misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan mengenai otak atau akal manusia adalah masalah kesadaran. Pada otak manusia terdapat bagian yang disebut dengan otak bahasa. Bagian ini juga tidak ditemukan pada makhluk lainnya.

Akal sebagai anugerah terbesar dari Yang Mahakuasa merupakan senjata untuk mengelola alam semesta. Akal menjadi senjata bagi manusia yang diberi mandat sebagai khalifah di muka bumi. Akan tetapi, adakalanya manusia tidak mampu mengendalikan akalnya karena dikalahkan oleh nafsu. Adanya hawa nafsu dalam diri manusia menuntut manusia untuk mampu mengenadalikannya sehingga kolaborasi akal dan nafsu ini akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Cinta Mati dalam Secangkir Kopi

Secangkir kopi yang kau hidangkan itu
terlalu manis
tapi
dari buihnya kutemukan cinta
dari asapnya kulihat cinta
dari aromanya kucium cinta
maka
yang kuminum itu bukan segelas kopi
tapi segenap cinta
maka
kunikmati kopi itu
bersama dedaknya karena di sana
masih mengendap cinta