Manusia sebagai Makhluk Berbudaya

Faktor utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai hewan, manusia tetap disebut sebagai hewan yang berakal. Misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan mengenai otak atau akal manusia adalah masalah kesadaran. Pada otak manusia terdapat bagian yang disebut dengan otak bahasa. Bagian ini juga tidak ditemukan pada makhluk lainnya.

Akal sebagai anugerah terbesar dari Yang Mahakuasa merupakan senjata untuk mengelola alam semesta. Akal menjadi senjata bagi manusia yang diberi mandat sebagai khalifah di muka bumi. Akan tetapi, adakalanya manusia tidak mampu mengendalikan akalnya karena dikalahkan oleh nafsu. Adanya hawa nafsu dalam diri manusia menuntut manusia untuk mampu mengenadalikannya sehingga kolaborasi akal dan nafsu ini akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Kolaborasi akal dan nafsu ini telah menempatkan manusia sebagai makhluk yang terus menerus berkembang menuju “kesempurnaan”. Hal ini dapat dilihat pada kondisi yang disebut sebagai “knowledge society” yang menunjukkan lompatan dalam bidang teknologi dari hitungan abad ke dasawarsa, dari daswawarsa ke tahun, dari tahun ke bulan. Setiap 72 hari (2,5 bulan) terjadi lompatan dalam bidang teknologi.

 

Sastra dalam Budaya - Budaya dalam Sastra

Dua aspek kerangka kebudayaan menurut Honigmann dan Kluckhohn (Koentjaraningrat, 2009: 150—165) berupa wujud kebudayaan dan isi kebudayaan. Wujud kebudayaan terdiri atas ide, aktivitas, dan artefak. Sedangkan isi kebudayaan terdiri atas bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.

Berkaitan dengan pernyataan di atas, sastra dipandang sebagai seni, sebagai lambang verbal, dan sebagai lambang ekspresif-kognitif atau intuitif-intelektual atau imajinatif-intelektif. Damono (1979:5) menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkannya. Dengan kata lain menurut Teeuw, karya sastra diciptakan tidak dalam kekosongan budaya. Karya sastra tidak pernah mengalami vakum atau kekosongan dan kehampaan makna dan nilai (Pradopo, 1995:114). Karya sastra selalu bermakna dan bernilai dalam kerangka sosial budaya tertentu atau dialektika budaya tertentu (Kayam, 1995). Karya sastra berada di antara konvensi dan inovasi (Teeuw).

Untuk membaca puisi di bawah ini dipersyaratkan adanya pengetahuan yang dimiliki pembaca berkaitan dengan kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya.

 

Dongeng sebelum Tidur

(Goenawan Mohammad)

“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita

yaitu nonsens”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya,

pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh

dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan

Seperti matahari”.

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan

kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin,

meskipun ia mengecup rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus

melarikan diri-dengan pertolongan dewa-dewa, entah

dari mana-untuk tidak setia.

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku?

Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari

kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?”

Seseorang yang ingin memahami puisi di atas haruslah menguasai bahasa Indonesia; memahami konvensi kesastraan, seperti versifikasi dan gaya bahasa; memahami budaya Jawa yang berkaitan dengan cerita Serat Aridarma.   

Latar sosial-budaya terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam karya-karya sastra (Pradopo, 1984:254). Representasi ini bukan hanya merekam dan memahami realitas nilai budaya, melainkan juga dapat mengkritik, mengomentari, dan bahkan memberontaki realitas nilai budaya yang ada. Representasi nilai budaya dalam sastra bukanlah memetakan dan memerikan dunia, melainkan justru mencipta dan mencipta ulang dunia (Kuntowijoyo, 1987:145-146).