Indonesia: bagaimana kabarmu hari ini?

Ambillah sebuah koran, perhatikan halaman pertama, bacalah judul-judul headline pada halaman pertama. Berita tentang korupsi, perseteruan politik, kriminalitas, dan sebagainya menghiasi koran-koran di negeri kita. Itulah gambaran situasi bangsa Indonesia. Tanpa ragu lagi kita akan mengatakan bahwa bangsa Indonesia berada dalam situasi krisis moral. Tidak berlebihan jika ada orang yang mengatakan bahwa Indonesia adalah Republik yang korup dan jahiliyah: sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum lumpuh; yang muda malas, yang tua gatal; ketamakan diagungkan; kebaikan dimusuhi; kejahatan dibiarkan. Situasi tersebut sejalan dengan pernyataan M. K. Gandhi mengenai “tujuh dosa sosial” yaang akan menjadi ancaman bagi kehidupan bernegara, yaitu 1) politik tanpa prinsip, 2) kekayaan tanpa kerja keras, 3) perniagaan tanpa moralitas, 4) kesenangan tanpa nurani, 5) pendidikan tanpa karakter, 6) sains tanpa humanitas, 7) peribadatan tanpa pengorbanan.

Karakter: berperilaku baik di manapun dan kapanpun

Pendidikan karakter secara formal digagas oleh F.W. Foester (1869-1966). Dikenal sebagai pendidikan karekter karena ia menekankan pendidikan karakter pada dimensi etis-spiritual. Tujuan pendidikan bagi Foester adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku hidup yang dimilikinya. Karakter adalah kualifikasi pribadi seseorang. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingensi yang selalu berubah. Karakter menurut Michael Novak (Lickona, 2012: 81) merupakan campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang berakal sehat yang ada dalam sejarah. Selanjutnya Lickona menjelaskan bahwa karakter yang baik terdiri atas mengetahui hal yang baik (pengetahuan moral – kebiasaan dalam cara berpikir), menginginkan hal yang baik (perasaan moral – kebiasaan dalam hati), melakukan hal yang baik (perilaku moral – kebiasaan dalam tindakan). Intinya, seseorang yang berkarakter baik akan tetap berbuat baik di manapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun.

 

Sastra: menghibur dan bermanfaat

Horatius dari masa Romawi klasik dalam karyanya Ars Poetica, yang ditulis pada sekitar abad ke-18 S.M, mengusulkan gagasan dulce (indah) dan utile (bermanfaat) sebagai tolok ukur bagi sesuatu yang disebut sebagai sastra. Keindahan atau hiburan saja tidaklah cukup bagi sebuah tulisan untuk memperoleh label sastra, tetapi karya tersebut harus membawa kemaslahatan bagi pembacanya. Dengan kata lain, menurut Poe sastra berfungsi menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu. Menurut Wellek dan Warren (1989:25) jika dilihat secara terpisah, kedua kata sifat itu memberikan gambaran yang bertentangan mengenai fungsi sastra. Selanjutnya, dikatakan bahwa kedua segi tersebut tidak hanya harus ada, tetapi juga harus saling mengisi. Kesenangan yang diperoleh dari sastra bukan seperti kesenangan fisik lainnya, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Sedangkan manfaatnya adalah keseriusan yang menyenangkan, keseriusan estetis, dan keseriusan persepsi.

Dalam pembicaraan mengenai fungsi sastra Wellek dan Warren (1989:24-36) menggarisbawahi beberapa pandangan yang muncul.

  • Pertama, manfaat dan keseriusan sastra terletak pada pengetahuan yang disampaikannya. Karya sastra menurut Aristoteles lebih filosofis dibandingkan dengan sejarah karena karya sastra berbicara juga mengenai hal yang belum terjadi. Sastra dapat dianggap lebih umum dari sejarah dan biografi, tetapi lebih khusus dari psikologi dan sosiologi. Novelis dianggap dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Menurut E.M. Forster, sedikit sekali orang yang kita kenal jalan pikiran dan motivasinya. Oleh karena itu, novel sangat berjasa dalam mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokohnya.
  • Kedua, karya sastra dapat berfungsi sebagai alat propaganda. Istilah propaganda mengacu pada pengertian terkandungnya unsur-unsur perhitungan, maksud-maksud tertentu, dan biasanya diterapkan dalam doktrin atau program tertentu. Biasanya karya sastra yang baik bukanlah propaganda. Akan tetapi, jika pengertian propaganda diperluas sehingga mencakup segala macam usaha yang dilakukan secara sadar atau tidak untuk mempengaruhi pembaca agar menerima sikap hidup tertentu, bisa dikatakan semua karya seni adalah propaganda.
  • Ketiga, karya sastra memiliki fungsi sebagai katarsis. Fungsi sastra menurut sejumlah ahli sastra adalah untuk membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi. Emosi mereka sudah diberi fokus dalam karya sastra dan lepas pada akhir pengalaman estetis sehingga mereka mendapatkan "ketenangan pikiran".

Lebih khusus lagi Alan Wendt (1969:vii) menjelaskan mengenai alasan-alasan mengapa seseorang membaca karya sastra (novel). Why read novels? For one thing, they're fun. Yang pertama, menurut Wendt seseorang membaca novel ialah untuk kesenangan. Hal ini tampaknya seperti pekerjaan yang sia-sia. Akan tetapi, karya sastra dapat memberikan pengetahuan dengan cara yang mengejutkan, bahkan akan membuat kita menjadi orang yang berbeda. Membaca buku sejarah biasanya kita berada di luar sebagai pengamat, tetapi membaca novel kita bisa langsung ikut berpartisipasi atau ikut mengalami sendiri. Why read novels? To meet people. Kedua, kita membaca novel dengan maksud untuk menemui manusia (seseorang). Orang-orang tertentu yang sulit kita temui dalam dunia nyata dapat kita temui dalam sebuah  novel. Kita dapat menemui para pahlawan atau penjahat besar sekalipun dengan kompleksitas perilakunya. Why read novels? To see how people act and to see the consequences of acts. Ketiga, kita membaca novel dengan maksud untuk melihat perilaku manusia dan konsekuensi dari perilaku tersebut. Dalam kehidupan nyata perilaku dan konsekuensinya terjadi dalam rutinitas sehingga tidak terasa keberartiannya, tetapi novelis mampu memberi makna yang dalam terhadap rutinitas perilaku kita.

 

Pendidikan Karakter: membaca sastra dengan kritis

Plato pernah membicarakan hubungan antara sastra, atau tepatnya sastrawan dengan pendidikan moral bagi generasi muda. Di mata Plato, sastrawan adalah ‘tukang-tukang kelas dua’ yang hanya mampu meniru karya orang lain atau menghadirkan imitasi inferior atas kenyataan. Kemampuan retorika sastrawan dikhawatirkan akan berpengaruh kepada generasi muda. Mereka lebih mempercayai sesuatu hasil angan-angan atau rekaan dan menjauhkan dari kenyataan.

Jean-Jacques Rousseau pun pada abad ke-18 turut mengutuk dampak yang dihasilkan oleh kerja kreatif para seniman. Rousseau mengetakan bahwa di kota yang dekaden seperti Paris, warga membutuhkan sastra (teater) untuk mengingatkan mereka akan kemerosotan akhlak dan kebobrokan moral yang merajalela di sana. Namun, bagi kota yang masih ‘murni’ dan memegang teguh moralitas, teater harus dilarang sebab justru akan menimbulkan kerusakan moral.

Di Indonesia Taufiq Ismail (2007) dalam pidatonya yang berjudul "Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka" itu secara tajam mengecam para pengarang, khususnya pengarang perempuan muda yang baru mulai berkarya setelah runtuhnya Orde Baru. Karya-karya mereka dituding suka mengeksploitasi seks dan syahwat.

Karya sastra sering berisi gagasan-gagasan yang mengganggu kemapanan, mempertanyakan kembali apa yang selama ini telah dianggap sebagai “kebenaran”. Sastra justru menyentak segala bentuk kenyamanan dan keyakinan tentang hubungan antara sastra dengan nilai-nilai luhur tersebut (Derida, 1992). Dengan kata lain, sastra bukanlah corong kebenaran atau sumber ajaran kebajikan. Sastra hadir justru untuk mengusik pemahaman tentang kebenaran dan kebajikan, membuat pembaca (masyarakat) merasa gamang dan harus menimbang kembali apa yang selama ini dipahami sebagai ‘yang luhur’. Pelajaran terpenting dan paling berharga yang dapat dipetik dari karya-karya itu terutama bukanlah pelajaran moral atau pekerti, melainkan peluang yang diberikan kepada pembacanya untuk berkonfrontasi dengan kemapanan dan melakukan refleksi kritis atas diri mereka sendiri. Dari sini, diharapkan lahir kearifan baru, cakrawala hidup yang lebih luas, dan penghargaan kepada sesama manusia yang tidak dicemari oleh nafsu untuk menghakimi atau mengadili orang lain.

 

Membaca: kunci pendidikan karakter melalui sastra

Karya sastra modern identik dengan karya tulis fiksi. Sebagai karya tulis menuntut adanya pihak pembaca. Oleh karena itu, hal yang pertama dan utama, karya sastra akan mampu menjadi bahan pembelajaran yang akan mengantarkan pada pendidikan karakter jika guru dan siswa, dosen dan mahasiswa mau meluangkan waktunya untuk membaca. Membaca saja tentu tidak cukup, perlu ada langkah berikutnya adalah menganalisis dan mendiskusikannya. Hasil diskusi itu harus menjadi landasan bagi langkah berikutnya, yaitu penghayatan. Menghayati juga tidaklah cukup karena ujung dari semua itu adalah kemauan dan kemampuan untuk mengamalkan.