Siapa Kita?

Penelitian genetika membuktikan tak ada pemilik gen murni di Nusantara. Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika yang awalnya berasal dari Afrika. Studi genetik yang dilakukan oleh konsorsium HUGO-Pan Asia memperlihatkan, semua populasi Asia Timur maupun Asia Tenggara berasal dari gelombang pertama migrasi Out of Africa. Migrasi ini menyusuri jalur selatan sekira 40.000-60.000 tahun lalu. Sementara itu, berdasarkan model Out of Taiwan, penyebaran penutur Bahasa Austronesia terjadi sekira 5.000-7.000 tahun lalu1.

Bagaimana cara kita mengungkap jati diri kita, jati diri bangsa Indonesia? Jika pencarian jati diri itu berkaitan dengan identitas fisik mungkin kita akan dikejutkan oleh hasil penelitian Lembaga Biologi Molekular Eijkman berkaitan dengan genetika orang-orang Indonesia. Kita tentu tidak patut mengolok-olok orang yang berkulit hitam karena dalam diri kita terdapat gen manusia Afrika. Kita juga tidak seharusnya mencibir orang yang bermata sipit karena dalam diri kita terdapat gen yang sama dengan orang Taiwan.

Sesungguhnya kita merasa senang dan mendukung dengan sepenuh emosi ketika Kevin dan Markus berlaga di kejuaraan bulu tangkis mewakili Indonesia walaupun kita tahu secara ras, suku, dan agama berbeda dengan kita. Sesungguhnya kita merasa miris dan khawatir ketika slogan-slogan pribumi dan nonpribumi dikumandangkan seperti pada peristiwa kelam 1998.

Jati diri atau identitas merupakan ciri khas yang menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Jati diri bisa pula berarti inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas. Jika ciri khas itu menjadi milik bersama suatu bangsa menjadi penanda jati diri bangsa tersebut. Di Indonesia ras, suku, dan agama tidak dapat dijadikan sebagai identitas bangsa. Bahasalah yang mampu menjadi simbol jati diri bangsa Indonesia, sejalan dengan semboyan “bahasa menunjukkan bangsa”.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dibentuk secara politis untuk menandai bangsa atau negara yang dasar teritorialnya berdasarkan “warisan kolonial Belanda” dengan upaya pemindahan kekuasaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Batas-batasnya adalah rasa memiliki terhadap suatu komunitas yang sama-sama tertindas dan berkeinginan memutuskan nasib politik bersama. Dalam kondisi semacam itu, bangsa Indonesia memiliki keyakinan bahwa persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural maupun kultural bisa dipertahankan. Dengan demikian pondasi berdirinya bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”. Dalam semboyan tersebut terkandung keberbedaan, kesatuan, harmoni, toleransi, dan perdamaian. Hal ini tidak hanya bernuansa domestik, tetapi juga mondial mengingat pengaruh globalisasi, yang menjadikan dunia ini sebagai kampung global, yang anti terhadap segala perilaku diskriminatif.

Pemilihan Bahasa Melayu yang diangkat menjadi bahasa Indonesia dianggap tepat, selain karena telah menjadi lingua franca, juga karena pertimbangan relatif tidak mengenal tingkatan, tidak mengenal undak-usuk basa (tidak diskriminatif). Anton M. Moeliono (2000) menyatakan bahwa pada tahun 1928 populasi orang Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu hanya 4,9%, sedangkan bahasa Jawa 47,8%, dan Sunda 14,5%. Dalam perkembangannya, melalui vernakularisasi, terbukti bahwa pilihan politik pada tahun 1928 itu telah mengantarkan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu menjadi bahasa masyarakat baru yang bernama Indonesia2

 

Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing

Untuk memenuhi kehidupan berbangsa diperlukan keharmonisan antara kearifan lokal, kearifan nasional, dan kearifan global. Dalam kaitannya dengan bahasa dan sastra kearifan lokal berupa kekayaan bahasa daerah di Indonesia, berdasarkan hasil pemetaan Badan Bahasa dari tahun 1991-2017, tercatat 733 bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah ini menjadi bahan penyumbang dalam pengembangan dan pertumbuhan kosakata bahasa Indonesia. Upaya-upaya pelestarian bahasa daerah, di antaranya dengan dijadikannya mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Dalam karya-karya sastra muatan-muatan budaya lokal menjadi tren yang mungkin akan terus bertahan karena kekayaan unsur lokalitas sangat melimpah. Bahkan tidak sedikit sisipan penggunaan bahasa daerah dalam karya sastra berbahasa Indonesia. Untuk menyebut beberapa contoh lokalitas dalam hal isi maupun bahasa akan banyak kita temukan dalam karya-karya Ahmad Tohari, Linus Suryadi, Umar Khayam, Mangunwijaya, Korie Layun Rampan, Andrea Hirata, Faisal Odang.

Berkaitan dengan pengutamaan bahasa Indonesia, pemerintah baru-baru ini mengeluarkan Peraturan Presiden No. 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Dalam Perpres tersebut bahasa Indonesia menjadi bahasa yang wajib dan harus diutamakan dalam dokumen kenegaraan, pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, pelayanan administrasi publik, penamaan geografi, merk dagang, lembaga usaha, dan sebagainya. Namun, sayang untuk perekrutan pegawai pemerintah atau perusahaan swasta belum melirik kemampuan penguasaan bahasa Indonesia sebagai salah satu kriteria penerimaannya, tampaknya masih mengutamakan TOEFL dibandingkan UKBI.  Dalam hal kesusastraan Indonesia pemerintah banyak memfasilitasi kegiatan pengembangan sastra, seperti mendanai program pengiriman sastrawan ke wilayah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal).

Sebagai warga dunia, masyarakat Indonesia juga dituntut untuk menguasai bahasa asing. Penguasaan bahasa asing menjadi prasyarat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Untuk menjaga identitas kebahasaan, pemerintah mengeluarkan senarai kosakata baru sebagai padanan dari kosakata asing. Pemerintah juga telah lama mengeluarkan kaidah (pedoman) penyerapan istilah asing serta memperoteksi melalui undang-undang kebahasaan dan Perpres tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Sebagai warga dunia, bahasa Indonesia saat ini menjadi salah satu bahasa yang banyak dipelajari oleh negara-negara lain di dunia. Dari total 195 negara di dunia, sebanyak 56 di antaranya saat ini tengah mempelajari bahasa Indonesia baik secara formal maupun non-formal3.

 

Pelemahan dan Penguatan Bahasa-Sastra melalui Teknologi Informasi

Teknologi informasi (dan internet) dengan cepat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Teknologi seperti pisau bermata dua, bisa berpengaruh buruk, sekaligus juga bisa menjadi senjata untuk menyebarkan kebaikan. Kehadiran teknologi informasi dengan segala aspeknya di tengah kehidupan manusia menjanjikan peluang sekaligus ancaman. Bahasa dan sastra sebagai entitas yang melekat dalam kehidupan manusia, termasuk dua hal yang tersentuh agresivitas teknologi informasi ini.

Penggunaan bahasa Indonesia di dalam dunia digital (teknologi informasi) cenderung tidak mengikuti aturan tata tulis dan tata bahasa baku karena banyak memuat akronim, simbol emoticon, serta kalimat dan diksinya dibuat singkat. Pengaruh bahasa Inggris juga terasa di dalam berbagai diskusi. Banyak muncul kata bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia di dalam berbagai diskusi. Penggunaan tanda baca yang berlebihan juga menjadi hal yang paling umum dijumpai di dalam percakapan di dunia siber. Penggunaan kata bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang mengekspresikan suatu nuansa tertentu juga banyak bermunculan seperti, ceilee, weleh2, lho. Bunyi yang merepresentasikan tawa sering muncul dengan berbagai variasinya, seperti hehehehe..., hehahah…., hihihihi..., dan wkwkwkwk. Penulisan huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata atau mencampurnya dengan symbol. Penggunaan Bahasa semacam itu bisa jadi merupakan perpanjangan dari fenomena bahasa alay yang telah dikenal terlebih dahulu, seperti akoh (aku), kamuh (kamu), muph (maaf), luthu (lucu). Gejala tersebut sebentuk dengan kata santuy yang sedang marak digunakan akhir-akhir ini.

Ekses lain dari perkembangan teknologi informasi adalah kebebasan dalam mengekspresikan bahasa verbal. Ketika melihat bahasa secara lebih luas, kita akan melihat bahwa bahasa bukan sekedar alat untuk berkomunikasi atau alat untuk menyuarakan gagasan. Kata Habermas “Language is also a medium of domination and power.” Bahasa adalah medium untuk melancarkan dominasi dan kekuasaan. Bahasa bisa menjadi alat untuk melegitimasi kekuasaan, menciptakan gagasan, melancarkan agitasi, dan membentuk sikap mental manusia terhadap keadaan di sekelilingnya. Melalui media sosial, misalnya dengan ringannya orang menyebarkan dan memaksakan keyakinannya. Mereka mengoreksi penggunaan bahasa yang selama ini telah memasyarakat, seolah-olah bahasa merekalah yang benar, seperti mengoreksi penulisan insyaallah, amin, assalamualaikum. Akan tetapi, sering tidak disadari kesalahan penggunaan syafakilah atau allahumaghfirlahu yang tidak tepat.

Sisi baik dari perkembangan teknologi informasi ini banyak dirasakan juga, di antaranya dalam hal penyebaran informasi yang lebih luas. Munculnya akun-akun komunitas, lembaga, bahkan akun pribadi yang peduli terhadap bahasa, seperti Badan Bahasa, Rubrik Bahasa, Lingua Bahasa, Ivan Lanin, Holy Adib, Hermawan Aksan telah ikut menjaga martabat Bahasa Indonesia. Mereka memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut. Para pengikutnya aktif juga untuk mengoreksi kesalahan penggunaan bahasa di media sosial. Di samping itu banyak juga bermunculan aplikasi-aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi kebahasaan, seperti KBBI daring dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Dalam kaitannya dengan karya sastra, dunia digital telah menyumbang banyak dalam pengembangan sastra. Media sosial dan website memberi ruang yang begitu luas untuk menyebarkan karya sastra. Bahkan beberapa sastrawan dan wartawan menerbitkan majalah sastra digital atau jurnal-jurnal sastra digital. Karya-karya sastra lama (naskah-naskah kuno) dengan mudah dapat diakses dengan gratis karena telah didigitalisasi (akun Annabel Gallop atau British Library bisa dijadikan sebagai pintu masuknya). Akun-akun media sosial milik para sastrawan pun banyak yang memuat karya sastra mereka. Sebagian di antara mereka juga ada yang rutin dan rajin membimbing para pengikutnya dalam menulis kreatif. Di antara sastrawan yang sangat produktif di media sosial adalah Hasan Aspahani dan Sita Kirana.

Perkembangan dunia digital (teknologi informasi) juga memberikan sumbangan penting terhadap munculnya kreativitas berbahasa. Kemudahan dalam menyebarkan dan keluasan penyebaran gagasan telah mamicu produk-produk yang melibatkan unsur sastra dan kebahasaan. Poster-poster kebahasaan atau poster yang berisi kutipan-kutipan dari karya sastra dipadukan dengan gambar atau foto, menghasilkan karya yang menarik. Ungkapan-ungkapan dan slogan-slogan bernuansa kritik atau ironi, bahkan sarkasme sebagai produk dari kreativitas berbahasa yang dipadu dengan gambar atau meme menghiasi media sosial bahkan menjadi trending topic. Beberapa contoh kreativitas bahasa yang diproduksi untuk kepentingan demo mahasiswa: “Jangan matikan keadilan, matikan saja mantanku”, “Bibir dikulum, pantat digrepe, assalamualaikum tolak RUU KUHP”, “Dikira hubungan kta aja yang gak jelas, ternyata DPR lebih gak jelas”, “Gpp make up ku luntur asal bukan keadilan yang luntur”

Kreativitas Bahasa yang bisa kita temukan di dunia digital yang secara tidak langsung mengkritik jati diri bangsa Indonesia, salah satunya dalam bentuk humor sarkistik. Sebagai contoh diambil dari https://www.nu.or.id/post/read/107658/perampok-ketemu-anggota-dpr:

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berinisial FHM biasa pulang malam menyusuri sebuah terowongan. Naas malam itu dia bertemu dengan pria bertopeng. Dengan gerak sigapnya, perampok melompat ke jalan menodong FHM yang berpakaian rapi dengan pistol di belakang badannya. "Berikan uang Anda," katanya. Merasa tak terima ditodong karena dirinya seorang pejabat, FHM berkata dengan sedikit berteriak, "Kamu tidak bisa melakukan ini! Saya ini anggota DPR!" "Kalau begitu, berikan uang SAYA!" kata perampok..

Humor ini ingin menyampaikan bahwa mengambil hak orang lain bukanlaj jati diri bangsa Indonesia. Contoh lain humor yang diambil dari https://www.ketawa.com/2002/12/624-neraka-orang-indonesia.html:

 

Neraka Orang Indonesia

Seorang warga Indonesia meninggal dan menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ada neraka yang berbeda-beda bagi tiap negara asal.

Pertama ia ke neraka orang Jerman dan berseru:

"Kalian ngapain saja di sini?"

Ia dijawab:

"Pertama-tama, kita didudukkan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu, setan Jerman muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari."

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia menuju tempat lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS dan neraka Rusia, dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka orang Jerman.

Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia, dan melihat antrian panjang orang yang menunggu giliran untuk masuk.

Dengan tercengang ia bertanya:

"Apa yang dilakukan disini?"

Ia memperoleh jawaban:

"Pertama-tama, ada yang mendudukkan kita di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita selama sisa hari."

"Tapi itu persis sama dengan neraka-neraka yang lain. Kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk sini?"

"Di sini pemeliharaan begitu buruknya, kursi listriknya nggak nyala, ada yang mencuri seluruh paku dari ranjang paku, bensinnya sering nggak ada, meski sudah disubsidi tetapi banyak dijual keluar. Ditambah setan-setannya ternyata bekas anggota DPR, jadi cuma datang, absen, dan pulang lagi.

Humor ironis sebenarnya bermaksud untuk mengkritik. Kita harus memberi tafsiran sebaliknya. Korupsi bukan jati diri bangsa kita.

 

Penutup

Sebagai penutup marilah kita simak pesan tersembunyi tentang jati diri bangsa Indonesia Aditya Yuda Kencana seorang siswa yang tinggal di Indramayu.

Itu Sampah atau Apa?

 

Beri tahu aku jika kau lihat

Itu sampah atau apa?

Di jalanan ada sampah

Di selokan penuh sampah

Di laci meja ada sampah

Di bus, truk, dan angkot ada sampah

 

Negeri kita ini apakah negeri sampah?

Lautan sampah?

Gunung sampah?

Atau tong sampah?

Di kursi restoran ada sampah

Di hotel berbintang ada sampah

Bahkan di meja direkturnya pun ada sampah

Di tempat penyebrangan ada sampah

Di bawah pos satpam ada sampah

Itu sampah atau apa?

 

Di ruang sidang ada sampah

Di ruang tunggu rumah sakit ada sampah

Di atas pot bunga sekolahan ada sampah

Sampah merajalela

 

Di istana presiden apakah ada sampah?

Siang itu aku mencoba masuk

Dan aku telusuri setiap sudutnya

Ternyata!

 

Sampah ada di bawah tiang bendera merah putih dan

Di balik gerbang masuk MPR ada sampah

Aku bingung, apakah di kursi-kursi parlemen ada sampah pula?

Coba lihat!

 

Apa? Kau tak berani?

Sungguh! Sampah sudah menjadi bunga-bunga nusantara

Di mana-mana ada sampah

Apakah di mulut manusia ada sampah?

Periksa sekarang!

 

Cepat!

Jika tak ada, syukurlah!

Manusia sombong! Membuang sampah seenaknya!

Jangan biarkan negeri kita sebagai tong sampah terbesar!

Ingat itu!

1Putri, Risa Herdahita. Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika dalam https://historia.id/kuno/articles/manusia-indonesia-adalah-campuran-beragam-genetika-6mmWr

2Moeliono, Anton M. 2000. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi” dalam Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi (Hasan Alwi, Dendy Sugono, dan A. Rozak Zaidan (Ed.). Jakarta: Pusat Bahasa

3“56 Negara Pelajari Bahasa Indonesia, Berpotensi Jadi Bahasa Internasional”, pada URL https://www.ayobandung.com/read/2019/06/27/56274/56-negara-pelajari-bahasa-indonesia-berpotensi-jadi-bahasa-internasional